Bahasa merupakan alat komunikasi bagi masyarakat yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Oleh karena itu, individu-individu yang sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan berkeinginan. Untuk menyatakan itu adalah bahasa yang digunakan untuk alat komunikasi. Pikiran kita tidaklah berarti sebelum dinyatakan dengan bahasa, apabila pikiran kita sudah dinyatakan dengan bahasa maka buah pikiran itu sudah dianggap berarti atau sah. Dengan kata lain bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi masyarakat untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan keinginan.
Pengembangan bahasa di masyarakat sangat variable dan pengembangan bahasa tersebut dipengarui oleh berbagai bahasa lain. Bahasa Indonesia banyak mengambil kata dari bahasa belanda. Kata kantoor yang berasal dari bahasa belanda yang bahasa indonesianya kantor merupakan adopsi bahasa. Bahasa dalam masyarakat bisa berkembang sangat pesat di pengaruhi oleh gaya bicara individu dalam masyarakat tersebut. Munculnya bahasa-bahasa baru tersebut juga dari adopsi bahasa lain, misalnya bahasa daerah.Perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia sangat berbeda, meskipun di dasari oleh bahasa melayu. Tetapi bahasa Malaysia dipengarui oleh bahasa asing lain, misalnya bahasa inggris dan bahasa lainnya. Persamaan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia hanya beberapa kata saja.
Minggu, 19 Juli 2009
Bahasa Indonesia Keilmuan
Dinamika fungsi baca yang diembannya mencakup lima butir yakni sebagai bahasa resmi dalam penyelenggaraan kehidupan negara dan pemerintahan, bahasa pengantar pada semua jenis dan jenejang pendidikan, bahasa penghubung nasional, sarana pengembangan ipteks, sarana pengembangan kebudayaan. Kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa ipteks adalah sebagai pengembang misi bahasa indonesia sebagai bahasa negara. Misi dimaksud adalah prestasi agarBIK mampu merespon dan mewadahi berbagai konsep keilmuan baik global, regional maupun lokal.
Bahasa juga merupakan simpul perilaku. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan, demikian pula sebaliknya. Sejalan dengan pandangan itu, bahasa indonesia keilmuan mempengaruhi perilaku berfikir logis penggunanya atau sebaliknya. Fungsi utama keilmuan adalah menjalankan “fungsi informasional” atau “transaksional”. Bahasa menjalankan fungsi transaksional apabila bahasa itu membawa informasi faktual atau proposisi. Dalam penulisan karya keilmuan yang perlu di perhatikan asas: keobjektifan, kejelasan, keringkasan, kelogisan, kepaduan, koherensi dan penekanan. Mengacu pada tujuh asas tersebut, secara umum BIK memiliki 5 karakteristik, yakni: objektif, ringka dan jelas, cendekia, formal serta konsisten/ajek.
Komunikasi keilmuan adalah komunikasi lugas dan langsung pada inti informasi. Oleh sebab itu unsur bahasa yang di gunakan juga lugas dengan menghindari kata-kata metaforis atau kata-kata konotatif.
Bahasa juga merupakan simpul perilaku. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan, demikian pula sebaliknya. Sejalan dengan pandangan itu, bahasa indonesia keilmuan mempengaruhi perilaku berfikir logis penggunanya atau sebaliknya. Fungsi utama keilmuan adalah menjalankan “fungsi informasional” atau “transaksional”. Bahasa menjalankan fungsi transaksional apabila bahasa itu membawa informasi faktual atau proposisi. Dalam penulisan karya keilmuan yang perlu di perhatikan asas: keobjektifan, kejelasan, keringkasan, kelogisan, kepaduan, koherensi dan penekanan. Mengacu pada tujuh asas tersebut, secara umum BIK memiliki 5 karakteristik, yakni: objektif, ringka dan jelas, cendekia, formal serta konsisten/ajek.
Komunikasi keilmuan adalah komunikasi lugas dan langsung pada inti informasi. Oleh sebab itu unsur bahasa yang di gunakan juga lugas dengan menghindari kata-kata metaforis atau kata-kata konotatif.
Pos jaga bahasa indonesia
Mempelajari Gramatik bahasa indonesia yang baik dan benar. Tidak sulit mempelajari bahasa Indonesiayang baku melalui buku ini, karena penjelasan mudah untuk di pahami atau di mengerti. Contoh-contoh yang disajikan merupakan hal-hal yang sering terjadi di sekitar kita. Sehingga lebih memudahkan kita untuk belajar dari kesalahan berbahasa indonesia. Dan dapat membedakan mana yang salah dan yang benar.
Melalui buku ini, kita juga dapat mempelajari segala hal mengenai ketatabahasaan Indonesia yang mungkin tidak kita dapatkan di lembaga pendidikan formal. Selain itu kita dapat mempelajari ungkapan-ungkapan baku yang selama ini jarang digunakan oleh kita.
Melalui buku ini, kita juga dapat mempelajari segala hal mengenai ketatabahasaan Indonesia yang mungkin tidak kita dapatkan di lembaga pendidikan formal. Selain itu kita dapat mempelajari ungkapan-ungkapan baku yang selama ini jarang digunakan oleh kita.
Indonesia hanya penonton
Kita sudah kangen dengan gelar juara sebuah event, sudah lama kita tidak mendengar ada sebuah kesuksesan yang diterima oleh tim nasional sepakbola negara besar ini. Peluang itu selalu ada, namun dengan alasan kurang persiapan, kita selalu gagal dalam sebuah event. Sebuah alasan klasik yang entah di buat-buat sebagai pembenaran kegagalan atau memang itu sebuah kelemahan dari Indonesia.
Apakah kita masih berharap dengan tim yang berlatih di Belanda itu? Saya harap sih tidak. Jangan dilihat dari ketenaran tempat latihannya, kita lihat hasil dari Asian Games dan pra- Olimpiade kemaren. Dan sekali lagi bukan masalah kegagalannya, kita liahat saja permainannya yang masih sangat amburadul, entah kemana uang bermilyar-milyar yang dihabiskan di Belanda itu.
Suatu keinginan
Setiap evant sepakbola kita hanya jadi penonton, hanya bangga dengan tim-tim lainya, dengan kata lain kita hanya jadi penggemar tim lain, misalnya Italia, jerman, Brasil, dll. Kapan kita seperti negara-negara tersebut? Itu sebuah pertanyaan yang sering kita lontarkan ke badan tertinggi sepak bola kita (PSSI). Kejayaan bangsa ini telah hilang di dunia sepak bola, di bandingkan waktu dulu saat nama bangsa ini Hindia-belanda. Kita semua berharap untuk ke depan supaya kejayaan bangsa ini kembali dengan usaha keras dan kerja sama yang baik.
PSSI ke mana?
Lembaga tertinggi sepak bola indonesia yaitu PSSI mati suri, kacaunya jadwal liga indonesia dan semerawutnya pengurus PSSI sendiri. Semoga di tahun ini PSSI bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi.
Kita sudah kangen dengan gelar juara sebuah event, sudah lama kita tidak mendengar ada sebuah kesuksesan yang diterima oleh tim nasional sepakbola negara besar ini. Peluang itu selalu ada, namun dengan alasan kurang persiapan, kita selalu gagal dalam sebuah event. Sebuah alasan klasik yang entah di buat-buat sebagai pembenaran kegagalan atau memang itu sebuah kelemahan dari Indonesia.
Apakah kita masih berharap dengan tim yang berlatih di Belanda itu? Saya harap sih tidak. Jangan dilihat dari ketenaran tempat latihannya, kita lihat hasil dari Asian Games dan pra- Olimpiade kemaren. Dan sekali lagi bukan masalah kegagalannya, kita liahat saja permainannya yang masih sangat amburadul, entah kemana uang bermilyar-milyar yang dihabiskan di Belanda itu.
Suatu keinginan
Setiap evant sepakbola kita hanya jadi penonton, hanya bangga dengan tim-tim lainya, dengan kata lain kita hanya jadi penggemar tim lain, misalnya Italia, jerman, Brasil, dll. Kapan kita seperti negara-negara tersebut? Itu sebuah pertanyaan yang sering kita lontarkan ke badan tertinggi sepak bola kita (PSSI). Kejayaan bangsa ini telah hilang di dunia sepak bola, di bandingkan waktu dulu saat nama bangsa ini Hindia-belanda. Kita semua berharap untuk ke depan supaya kejayaan bangsa ini kembali dengan usaha keras dan kerja sama yang baik.
PSSI ke mana?
Lembaga tertinggi sepak bola indonesia yaitu PSSI mati suri, kacaunya jadwal liga indonesia dan semerawutnya pengurus PSSI sendiri. Semoga di tahun ini PSSI bisa belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah terjadi.
PBL
Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap Problem Based Learning (PBL). Salahsatunya menurut Duch (1995):Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Sejarah PBL
Program inovatif PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Yang menjadi ciri khas dari pelaksanaan PBL di mcmaster adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah.Kemudian pada tahun 1976, Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Kekhasan pelaksanaan PBL di Maastrich terletak pada konsep tes kemajuan (progress test) dan pengenalan keterampilan medik sejak awal dimulainya program pendidikan. Dalam perkembangannya, PBL telah diadopsi baik secara keseluruhan atau sebagian oleh banyak fakultas kedokteran di dunia.
Motivasi menggunakan PBL
Dalam pendidikan kedokteran konvensional, mahasiswa lebih banyak menerima pengetahuan dari perkuliahan dan literatur yang diberikan oleh dosen. Mereka diharuskan mempelajari beragam cabang ilmu kedokteran dan menghapal begitu banyak informasi. Setelah lulus dan menjadi dokter, mereka dihadapkan pada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dari pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah. Sistem pendidikan kedokteran konvensional cenderung membentuk mahasiswa sebagai pembelajar pasif. Mahasiswa tidak dibiasakan berpikir kritis dalam mengidentifikasi masalah, serta aktif dalam mencari cara penyelesainnya.
Prinsip-prinsip PBLDalam PBL,
siswa dituntut bertanggungjawab atas pendidikan yang mereka jalani, serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru. PBL membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani. Seorang guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan. Ketika siswa menjadi lebih cakap dalam menjalani proses belajar PBL, tutor akan berkurang keaktifannya. Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif.Proses dalam PBLSiswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Pertama-tama mereka mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya. Langkah selanjutnya, siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya tiap individu. Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk lebih memahami dan menyelesaikannya. Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik mambangun bagi kolega.
Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap Problem Based Learning (PBL). Salahsatunya menurut Duch (1995):Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Sejarah PBL
Program inovatif PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Yang menjadi ciri khas dari pelaksanaan PBL di mcmaster adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat, terfokus pada manusia, melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah.Kemudian pada tahun 1976, Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Kekhasan pelaksanaan PBL di Maastrich terletak pada konsep tes kemajuan (progress test) dan pengenalan keterampilan medik sejak awal dimulainya program pendidikan. Dalam perkembangannya, PBL telah diadopsi baik secara keseluruhan atau sebagian oleh banyak fakultas kedokteran di dunia.
Motivasi menggunakan PBL
Dalam pendidikan kedokteran konvensional, mahasiswa lebih banyak menerima pengetahuan dari perkuliahan dan literatur yang diberikan oleh dosen. Mereka diharuskan mempelajari beragam cabang ilmu kedokteran dan menghapal begitu banyak informasi. Setelah lulus dan menjadi dokter, mereka dihadapkan pada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dari pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah. Sistem pendidikan kedokteran konvensional cenderung membentuk mahasiswa sebagai pembelajar pasif. Mahasiswa tidak dibiasakan berpikir kritis dalam mengidentifikasi masalah, serta aktif dalam mencari cara penyelesainnya.
Prinsip-prinsip PBLDalam PBL,
siswa dituntut bertanggungjawab atas pendidikan yang mereka jalani, serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru. PBL membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani. Seorang guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan. Ketika siswa menjadi lebih cakap dalam menjalani proses belajar PBL, tutor akan berkurang keaktifannya. Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif.Proses dalam PBLSiswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Pertama-tama mereka mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya. Langkah selanjutnya, siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya tiap individu. Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk lebih memahami dan menyelesaikannya. Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik mambangun bagi kolega.
Sabtu, 18 Juli 2009
DeutsheWoche 13
Mahasiswa jurusan bahasa jerman akan menghelat acara besar pada bulan novermber tahun 2009 ini. Acara ini sudah lama di adakan oleh mahasiswa bahasa jerman kira-kira sejak tahun 1996. DeutscheWoche 13 dengan konsep suasana jerman pada satu minggu penuh, dengan acara-acara lomba dan pentas seni dengan nuansa jerman. Lomba tersebut di tujukan kepada siswa-siswa SMU se-jawatimur.
http://www.jermanunesa.com
http://www.unesa.ac.id/
http://www.jermanunesa.com
http://www.unesa.ac.id/
Indonesia berduka
Dua bom bunuh diri yang meledak di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, pusat kota jakarta, pagi kemarin mengingatkan kita betapa biadab dan pengecutnya ulah teroris.
Langganan:
Postingan (Atom)
